Contoh Sederhana Sebuah Analisis Puisi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sudah sepatutnya kita menyadari bahwa sebuah karya sastra adalah sesuatu yang sangat kaya dengan makna. Karya tersebut harus dapat dipahami agar dapat diketahui makna yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, kita dihadapkan pada sebuah tantangan bahwa kita akan menjadi seorang pengajar yang diruntut untuk mempunyai kompetensi untuk mengajarkan sastra, yang salah satunya adalah pemahaman terhadap genre sastra puisi. Oleh sebab itu, maka kita harus senantiasa dapat memahami bagaimana cara atau metode dalam memaknai sebuah karya sastra yang dalam hal ini adalah puisi.

B. Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah yang penulis susun adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana cara memahami sebuah puisi?
  2. Apa makna yang terkandung dari contoh puisi dalam makalah?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai setelah penyusunan makalah adalah:

  1. Memberikan gambaran tentang bagaimana cara memahami sebuah puisi.
  2. Memberikan makna atau tafsiran terhadap beberapa contoh puisi yang terdapat dalam makalah.

D. Kegunaan

Makalah ini diharapkan menjadi sebuah gambaran tentang cara atau langkah yang harus ditempuh oleh seorang apresiator dalam memaknai sebuah puisi, lebih khusus tentang hakikat puisi.

E. Prosedur

Disusun dengan menggunakan metode studi pustaka atau menelaah berbagi buku.

———————————————————————————————————————————————————————

BAB II

PEMBAHASAN

A. Landasan Teoretis

Memahami sebuah puisi ternyata bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan bahwa puisi merupakan sebuah karya yang multi interpretatif, sehingga memungkinkan makna yang lebih dari satu tergantung dari sudut mana apresiator menerjemahkan puisi tersebut.

Kemultiinterpretatifan puisi merangsang para ahli sastra untuk memberikan kemudahan dalam memahami sebuah puisi, seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Mursal Esten dalam bukunya yang berjudul Memahami Puisi.

Beliau memberikan sepuluh petunjuk dalam memahami puisi. Kesepuluh langkah tersebut adalah:

  1. Perhatikanlah judulnya
  2. Lihat kata-kata yang dominan
  3. Selami makna konotatif
  4. Makna yang lebih benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa.
  5. Untuk menangkap maksud sebuah puisi, prosakanlah atau parafrasekan puisi tersebut.
  6. Usut siapa yang dimaksud kata ganti yang terdapat dalam puisi tersebut.
  7. Temukan pertalian antara semua unsure dalam puisi
  8. Mencari makna yang tersembunyi
  9. Memperhatikan corak sebuah sajak
  10. Harus dapat menunjukan bait mana, atau larik mana yang menjadi sumber tafsiran tersebut.

Memahmi Puisi karya Mursal Esten (1995:31-56)

Ternyata, dalam memahami puisi tidak hanya dapat dilakukan dengan meninjau unsur fisiknya saja, melainka ada unsur lain yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami.

Herman J. Waluyo dalam bukunya Teori dan Apresiasi Puisi mengistilahkan unsur batin puisi denagan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur hakikat puisi, yakni:

1. Tema

Herman J. Waluyo (1987:106) mengatakan “Tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair”. Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa tema merupakan sebuah atmosfer dari sebuah puisi, sebuah puisi pasti memiliki sebuah tema (umumnya satu) yang melingkupi keseluruhan puisi. Oleh sebab itu dalam menafsirkan tema dalam puisi, puisi tersebut harus ditafsirkan secara utuh.

2.  Perasaan (Feeling)

Perasaan ini adalah keadaan jiwa penyair ketika menciptakan puisi tersebut. Pendapat penulis ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh Herman J. Waluyo (1987:121) bahwa perasaan adalah “ suasana perasaan penyair yang ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca”.

3. Nada dan Suasana

Nada adalah sikap penyair dalam menyampaikan puisi terhadapa pembaca, beraneka ragam sikap yang sering digunakan oleah penyair, seperti yang dikemukakakn oleh Herman J. Waluyo (1987:125) “…apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, menyindir, atau bersikap lugas…”.

Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut.

4. Pesan (Amanat)

Herman J. Waluyo (1987:130) menyatakan bahwa “Pesan adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan atau pesan atau tujuan yang hendak disampaikan penyair”.

Meninjau pernyataan beliau, pesan merupakan inti dari sebuah puisi yang merupakan gagasan subjektif penyair terhadapa sesuatu.

B. Pembahasan

Berikut adalah beberapa puisi yang telah coba penulis tentukan makna di balik hakikat puisi tersebut.

Hendri Rosevelt

Sesuatu yang Datang dan Pergi

Biarkan lilin ini tetap menyala, katamu

dengan wajah yang tak seluruhnya terbaca

dibalut malam yang tua. Dan jam dinding

yang mengantarkan gigil suara

seperti memberikan nyawa setiap benda.

Kemudian pada sebuah jendela

kau ingat-ingat lagi seluruh peristiwa

malam yang sama, hujan belum juga reda

telah menghapus setiap jejak di jalan kecil itu

namun tidak untuk sesuatu yang kau tunggu.

Sesuatu yang selalu datang

dan memburumu dalam dekap

sebelum kembali pergi menuntaskan sepi.

Dan kau tidak bisa berbuat apa

lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan

dari kesedihan.

Bandar Lampung, 2003

A. Tema

Hal pertama yang harus dilakukan untuk menentukan hakikat dari sebuah puisi adalah menentukan tema yang terkandung dalam sebuah puisi. Herman J. Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi,106) mengatkan bahwa: “ Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair”.

Dalam menentukan tema dari sebuah puisi, seorang apresiator harus menghubungkan antara puisi dengan penyairnya, sebab puisi bersifat khusus (subjektif), tetapi puisi juga bersifat obyektif bagi semua penafsir, sebab jika puisi telah diterbitkan atau telah di publikasikan, maka puisi tersebut mutlak milik pembaca, yang tentunya tetap harus memperhatikan kaidah pemaknaan sebuah puisi.

Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi memiliki tema religius. Penulis menafsirkan demikian sebab puisi tersebut melambangkan pengalaman batin penyair terhadap kematian. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Sesuatu yang Datang dan Pergi”. Menurut pendapat penulis, yang dimaksud oleh “sesuatu” di sana adalah kematian. Hal tersebut seiring dengan cara memahami puisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Mursal Esten (1995:32) “ Perhatikanlah judulnya. Judul adalah sebuah lubang kunci untuk keseluruhan makna puisi”.

Dalam puisi tersebut terlihat bagaimana kepasrahan tokoh dalam puisi terhadap kematian. Tokoh begitu menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti datang, sebab sudah merupakan takdir-Nya.

Sesuatu yang selalu datang

dan memburumu dalam dekap

sebelum kembali pergi menuntaskan sepi.

Dan kau tidak bisa berbuat apa

lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan

dari kesedihan.

Bait di atas menggambarkan bahwa kematian akan selalu datang, memburu. Kesadaran tokoh yang dilukiskan pengarang terlihat dalam “Dan kau tidak bisa berbuat apa lantaran mengerti harus ada yang diselesaikan dari kesedihan” larik tersebut menggambarkan kepasrahan, bahwa kita tidak akan mampu berbuat apa-apa jika dihadapkan pada kematian, dan tokoh dalam cerita begitu mengerti bahwa hidup memang harus ada penyelesaian.

Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema religius.

B. Perasaan (Feeling)

Perasaan dalam sebuah puisi adalah suatu ekspresi dari perasaan penyair yang dituangkan dalam puisi tersebut. Perasaan setiap penyair tentunya berbeda, hal inilah  yang membedakan sikap penyair yang satu dengan penyair yang lain walaupun terhadap sesuatu hal yang sama.

Penulis berpendapat bahwa perasaan kereligiusan penyair menjadi hal utama yang melandasi terciptanya puisi tersebut. Sikap pasrah penyair terhadap takdir-Nya, dan kesadaran penyair tentang kematian.

Biarkan lilin ini tetap menyala, katamu

dengan wajah yang tak seluruhnya terbaca

dibalut malam yang tua. Dan jam dinding

yang mengantarkan gigil suara

seperti memberikan nyawa setiap benda.

Bait di atas menggambarkan kesunyian yang dirasakan penyair ketika kematian akan datang, bahkan penyair beranggapan bahwa kematian adalah sebuah kesunyian. Kesunyian ini dilambangkan penyair dengan sebuah metafor “Dan jam dinding yang mengantarkan gigil suara seperti memberikan nyawa setiap benda” metafor tersebut penulis artikan sebagai waktu yang begitu sunyi sampai detak jam dinding pun terdengar begitu jelas.

Dengan demikian maka penulis menyimpulkan bahwa perasaan yang dirasakan penyair dalam puisinya adalah perasaan pasrah menghadapi sebuah kematian.

C. Nada dan Suasana

Herman J. Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi,125) “ Sikap penyair terhadap pembaca ini disebut nada puisi”. Setiap puisi memiliki nada-nada tertentu, nada ini adalah cara penyair menyampaikan hal dalam puisinya.

Penulis berpendapat bahwa puisi tersebut bernada lugas, sebab penyair begitu lugas dalam mengemukakan bagaimana pengalaman religiusnya terhadap pembaca. Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi mencerminkan bagaimana kelugasan penyair dalam mengemukakan pengalamannya, tidak bersikap menggurui. Hal ini disebabkan bahwa kematian adalah sesuatu yang sangat sakral, tidak ada yang mampu meramalkan sebuah kematian.

Suasana adalah perasaan yang dirasakan pembaca setelah membaca sebuah puisi. Seperti yang dikemukakan oleh Herman J. Waluyo (Teori dan Apresiasi Puisi:125) “ Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca”. Puisi yang berjudul Sesuatu yang Datang dan Pergi memberikan kesadaran pada pembaca, bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hal ini penulis rasakan setelah membaca puisi tersebut, penulis menyadari bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, sebab walau bagaimanapun kematian akan tetap datang, sebab kematian merupakan sebuah kepastian.

D. Amanat (Pesan)

Setelah memahami tentang tema, nada,dan perasaan yang terdapat dalam puisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam puisinya adalah tentang kematian, pengarang ingin mengamanatkan bahwa kta tidak perlu takut menghadapai kematian, sebab kematian pasti akan selalu datang, yang harus kita persiapkan agar kematian tidak menjadi sesuatu yang menakutkan adalah kehidupan yang tetap di Jalan-Nya.

Tengsoe Tjahjono

Samudera

Diri manusia adalah samudra

dalam dan luas

malaekat dan setan membunyikan

genderang perang

berkejaran di atas ombak-ombak

terpental kepantai lantas

menggapai langit

dengan jemari dan kuku-kukunya

satu kalah

satu menang

A. Tema

Tema yang terkandung dalam puisi yang berjudul Samudra ini adalah tema kemanusiaan. Penulis berpendapat bahwa yang diceritakan penyair dalam puisi tersebut adalah tentang luasnya jiwa manusia yang disimbolkan oleh samudra, “diri manusia adalah samudra dalam dan luas” tetapi walau demikian jiwa manusia yang luas tersebut tidak luput dari godaan setan “malaikat dan setan membunyikan gendering perang”, hal ini adalah sebuah kode aksian tentang bagai mana gejolak yang terjadi dalam jiwa manusia, konflik batin yang ditimbulkan oleh bisikan setan dan malakat. Terkadang jiwa manusia menang sebab bisikan malaikat lebih kuat jika dibandingkan dengan bisikan setan tetapi terkadang sebaliknya.

berkejaran di atas ombak-ombak

terpental kepantai lantas

menggapai langit

dengan jemari dan kuku-kukunya

satu kalah

satu menang

B. Perasaan (feeling)

Puisi ini menggambarkan pemahaman penyair terhadap situasi jiwa manusia, pandangan penyair terhadap bisikan-bisikan hati manusia yang mempengaruhi prilaku manusia. Penyair memahami bagaimana setan dan malaikat mempengaruhi jiwa manusia. Malaikat mempengaruhi manusia agar selalu ada di jalan-Nya, sedangkan setan menjerumuskan manusia agar ingkar terhadap firman-Nya. Kadang jiwa manusia mampu mengusir segala bisikan setan yang dapat menjerumuskannya tetapi terkadang manusia malah mengikuti hawa nafsunya, ketika itulah setan merasa menang.

C. Nada dan Suasana

Nada yang terlihat dalam puisi di atas adalah bahwa penyair berlaku sebagai seorang teman pembaca yang bercerita tentang keadaan jiwanya atau jiwa pembaca, bahkan seluruh jiwa umat manusia. Penyair tidak berlaku sebagai seorang guru, bahkan penyair seolah tidak leluasa dalam membagi pengalamannya. Hal terlihat dalam: “satu kalah…satu menang”, penulis berpendapat bahwa penyair sebenarnya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya manusia lebih sering menuruti kehendak setan dari pada kehendak malaikat.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah bahwa kita harus mengetahui bahwa dalam menjalani kehidupan tidaklah semudah yang sering kita bayangkan. Pembaca seharusnya menyadari bahwa dalam mengarungi kehidupan

D. Pesan (Amanat)

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut adalah bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa yang teramat luas sehingga diperlukan kontrol. Sejak jaman Adam sampai saat ini setan selalu datang membisikan ke dalam dada manusia agar ingkar dari jalan-Nya, oleh sebab itu, manusia memerlukan kendali untuk melawan bisikan tersebut.

satu kalah

satu menang

Potongan bait ini menjelaskan keadaan jiwa manusia, kadangkala manusia mampu melawan bisikan setan tersebut, dan terkadang pula sebaliknya, manusia terjerumus oleh bisikan setan. Sekali lagi manusia memerlukan sebuah benteng untuk melawan bisikan setan tersebut. Satu-satunya jalan untuk melawan bisikan setan adalah dengan memegang erat ajaran agama.

Inggit Putria Marga

Firman

Ada yang menitik,

Sembunyi

Pada celah batu

Ada yang mengalir

Ada yang beku

Bandar Lampung,2001

A. Tema

Seperti halnya puisi karya Hendri Rosevelt “Sesuatu yang Datang dan Pergi” puisi karya Inggit yang berjudul Firman pun bertema religius, bahkan dalam judulnya pun sudah begitu jelas bahwa puisi ini bercerita tentang Firman Tuhan. Kata “Firman” merupakan sebuah kata yang biasa dipakai dalam suasana kereligiusan.

Penyair mempunyai sebuah kesimpulan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah firman-Nya.

Ada yang menitik,

Sembunyi

Pada celah batu

Ada yang mengalir

Ada yang beku

Penyair menyadari bahwa sekecil apapun yang ada di dunia ini merupakan firman-Nya. Hal ini dikemukakan penyair dengan menggunakan sebuah majas perbandingan (personifikasi) “Ada yang menitik, sembunyi pada celah batu ada yang mengalir ada yang beku”. Penulis memakna bahwa yang menitik, yang sembunyi, yang mengalir, dan yang beku adalah firman, sesuatu yang abstrak tetapi diserupakan dengan prilaku manusia, sehingga majas tersebut termasuk pada majas personifikasi.

B. Perasaan (Feeling)

Puisi di atas merupakan sebuah hasil perenungan penyair terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini, sehingga terciptalah puisi religius ini. Perasaan penyair yang diekspresikan dalam puisi ini adalah perasaan sadar bahwa betapa kuasanya Tuhan, sehingga selalu memberikan firmannya dalam segala bentuk, untuk menjadi sebuah bahan tafakur umat manusia, bukan hanya untuk dieksploitasi dengan semena-mena.

Sebagai mahluk Tuhan kita harus memikirkan ciptaan-Nya, untuk menjadi sebuah pengetahuan yang akan beguna dalam kehidupan, sebab mahluk Tuhan akan memberikan pengetahuan pada setiap orang yang mau mempelajarinya dengan saksama.

C. Nada dan Suasana

Nada penyair dalam menyampaikan isi dari puisinya, adalah dengan mengekspresikan hasil pemikirannya tehadap segala sesuatu yang ada di dunia ini, penyair menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah firman.

Dalam mengemukakan hal itu, pengarang sama sekali tidak bermaksud menggurui pembaca, pengarang hanya mengemukakan hasil pemikirannya pada pembaca dengan lugas dan apa adanya sesuai dengan hasil pemikirannya tersebut.

Suasana yang ditimbulkan setelah penulis membaca karya tersebut adalah suasana kesadaran dan penyesalan, mengapa demikian? Sebab penulis merasa menyesal mengapa penulis tidak berpikir sejauh itu, tidak berusaha memahami semua ciptaan-Nya sebagi sebuah firman yang harus menjadi sebuah bahan pemikiran.

D. Pesan (Amanat)

Pesan yang ingin penyair sampaikan dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagi mahluk Tuhan seharusnya menafakuri semua ciptaannya sebagai sebuah sebuah firman yang dapat memberikan pengetahuan pada kita.

Pada umumnya manusia hanya memikirkan bagaimana agar bumi ini memberikan keuntungan sebesar-besarnya pada dirinya tanpa memikirkan akibatnya, hal inilah yang menjadi hal yang dapat memberikan kehancuran pada alam semesta ciptaan-Nya.

Apip Mustopa

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

lewat gempa bumi yang berguncang

deru angin yang meraung-raung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kau dengar?

A. Tema

Tema yang terkandung dalam puisi yang berjudul “Tuhan Telah Menegurmu” adalah tema ketuhanan. Penulis menyimpulkan demikian sebab puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana Tuhan memberikan peringatan pada manusia dengan gejala alam yang termasuk kecil (hanya berupa kiamat kecil), puisi tersebut menggambarkan bagaimana Tuhan adalah Maha Penyabar, tidak langsung memberikan akhir dunia pada manusia.

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

lewat gempa bumi yang berguncang

deru angin yang meraung-raung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

Dalam puisi tersebut tergambar bagaimana Tuhan begitu sabar memberikan peringatan pada umat manusia, Tuhan memberikan sebuah gambaran tentang kehidupan untuk menjadi sebuah pembelajaran pada kita untuk berbagi dengan sesama. “lewat perut anak-anak yang kelaparan”. Sebagai manusia ciptaan Tuhan seharusnya kita selalu mengingatnya “ lewat semayup suara azan” serta Tuhan juga memberikan gambaran bagaimana akibat dari ulah manusia jika mengeksploitasi alam secara semena-mena “lewat gempa bumi yang berguncang deru angin yang meraung raung kencang hujan dan banjir yang melintang pukang”.

Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi tersebuat adalah ketuhanan.

B. Perasaan (Feeling)

Yang tergambar dalam puisi di atas adalah perasaan getir pengarang terhadap kehidupan umat manusia yang seolah tidak peduli dengan peringtan-peringatan yang telah dengan cukup sabar diberikan Tuhan. Pengarang memberikan sebuah ironisme atau sindiran pada manusia tentang kejadian yang terjadi di sekeliling manusia tetapi tidak juga menyadarkan mereka. Bahkan penulis mengindikasikan adanya rasa kesal pengarang terhadap prilaku manusia tersebut, manusia seakan tidak peduli dengan kejadian yang terjadi di lingkungannya. Hal ini terlihat dalam bait terakhir dari puisi tersebut yang hanya satu larik. “ adakah kau dengar?” hal ini merupakan ungkapan kekesalan penyair tentang prilaku manusia.

C. Nada dan Suasana

Nada pengarang dalam menyampaikan puisinya adalah menggurui, hal ini sebagai ungkapan pengarang dalam mengekspresikan kekesalannya terhadap sikap manusia yang tak acuh terhadap kejadian yang terjadi di lingkungannya, pada pengemis-pengemis yang sering kelaparan, pada bencana alam, dan akibat dari ulah manusia yang merusak alam.

Penyair sebenarnya tidak ingin menggurui pembaca, tetapi karena terdorong oleh perasaan kecewa tersebut maka penyair melakuka hal itu. Hal ini terlihat dalam bait terakhir puisi tersebut, yang berbunyi: “Adakah kau dengar?”. Hal ini terdorong oleh kekesalan penyair terhadap manusia yang seolah tuli dengan kejadian yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi haruslah menjadi sebuah bahan pemikiran kita, seperti anak yang kelaparan, bencana alam dan lain-lain. Sebab tidak mustahil semua kejadian tersebut akibat ulah kita. Bahkan saya salaku pembaca merasa malu dan tersindir oleh apa yang dikemukakan penyair dalam puisinya, selama ini kita seolah membutakan mata sendiri ketika melihat anak yang kelaparan, kita seolah menulikan telinga sendiri ketika mendengar bencana alam, bahkan kita enggan mengingat-Nya ketika terdengar semayup suara azan.

D. Pesan (Amanat)

Hal yang ingin disampaikan penyair dalam puisi ini adalah bahwa kita sebagai umat manusia harus lebih peka dengan kejadian yang terjadi di lingkungan kita, kita harus menyadari bahwa Tuhan telah begitu sabar memberikan peringatan pada kita, penyair juga ingin memberikan sebuah kenyataan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita untuk menjadi tanggung jawab bersama.

Puisi ini juga memberikan sebuah solusi bagaimana cara kita agar lebih peka terhadap lingkungan kita, yaitu dengan jalan selalu mengingat tuhan yang disiratkan oleh semayup suara azan.

Dian Jaka Sudrajat

Menunggu

Waktu hanya menjadi sebuah penantian

Bagi kita. Berabad-abad

Menunggu jemputan takdir yang Kuasa

Untuk sebuah pertemuan

Pertemuan antara hatimu dan hatiku

Dalam cahaya kebahagiaan cinta

2001

A. Tema

Puisi yang berjudul Sesuatu yang Menunggu memiliki tema religius. Penulis menafsirkan demikian sebab puisi tersebut melambangkan pengalaman penyair terhadap sesuatu yang dinamakan waktu. Hal tersebut terlihat dari judul puisinya “Menunggu”. Menunggu adalah suatu perbuatan pasif yang berkaitan dengan waktu.

Pada bait kedua “Menunggu jemputan takdir yang Kuasa untuk sebuah pertemuan” Penulis menafsirkan bahwa kehidupan sebenarnya adalah sebuah penantian untuk pertemuan dengan Yang Maha Kuasa, dengan kata lain, bahwa sebenarnya kita hidup di dunia hanya persinggahan sementara, untuk menunggu sebuah kehidupan yang abadi. Dalam puisi tersebut terlihat bagaimana kepasrahan tokoh dalam puisi terhadap kematian. Tokoh begitu menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti datang, sebab sudah merupakan takdir-Nya.

Dengan demikian maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema religius.

  1. Perasaan (Feeling)

Perasaan yang peling tampak dalam puisi di atas adalah sebuah arus kesadaran penyair dalam mengarungi kehidupan di dunia, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Penyair begitu menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah alam dunia ini.

Tetapi pada dua larik akhir pada bait kedua, penyair mempunyai sebuah harapan bahwa kehidupan yang abadi ada dalam kebahagiaan.

“Pertemuan antara hatimu dan hatiku

dalam kebahagiaan cahaya cinta”

Yang dimaksud dengan “hatimu dan hatiku” pada larik tersebuat adalah pertemuan antara mahluk dengan sang pencipta. Sedangkan yang dimaksud dengan “dalam kebahagiaan cinta” adalah surga, penyair menginginkan bahwa hidup nanti di akhirat dapat rahmat dari Yang Maha Kuasa dengan surga-Nya.

  1. Nada dan Suasana

Menurut pendapat penulis, nada penyair dalam menyampaikan isi puisi tersebut adalah sebagai seorang pencerita. Seorang pencerita yang menyadari bahwa takdir manusia adalah untuk menunggu kehidupan abadi di akhirat. Manusia tidak dapat mengelak dari kematian untuk hidup kembali di alam lain dan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ada di alam dunia.

Penyair ingin berbagi dan mengajak pembaca untuk selalu berharap yang terbaik untuk kehidupan abadi tersebut, yaitu surga. Dengan ajakan tersebut, sebenarnya penyair ingin memberikan sebuah pertanyaan pada pembaca, bagaimana agar dapat hidup bahagia di alam sana?.

Suasana yang ditimbulkan setelah membaca puisi tersebut adalah pembaca semakin menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat. Termasuk saya sebagai pembaca, saya merasa harus lebih hati-hati dalam menjalankan kehidupan ini, sebab nanti akan diminta pertangungjawaban atas semua yang telah dilakukan.

  1. Amanat (Pesan)

Dalam puisi yang berjudul “Menunggu” penyair ingin memberikan sebuah amanat pada pembaca agar lebih hati-hati dalam menjalankan kehidupan ini,sebab segala yang diucapkan, diniatkan, dan dilakukan ada pertanggungjawabannya. Penyair mengingatkan pembaca bahwa manusia jangan terlena oleh kehidupan dunia.

Selama kita menunggu di dunia hendaklah diisi dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain, sehingga menjadi sebuah jaminan agar kita bahagia nanti di kehidupan abadi.

Doni Muhamad Nur

Nurani

Penyair tidak mencipta

Sajak dari ketiadaan, dari

Mimpi-mimpi kosong

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Yang menjelma puisi

Lebih kekal dari batang

Usianya yang rapuh

Dipangkas waktu

1997-2001

A. Tema

Untuk menentukan tema dari sebuah puisi pertama-tama penulis memperhatikan judulnya terlebih dahulu. Langkah ini seperti yang telah penulis baca dari buku karangan Mursal Esten (1995:31) yang mengatakan bahwa petunjuk pertama dalam memahami sebuah puisi adalah dengan melihat judulnya. Puisi di atas berjudul Nurani, dengan judul yang seperti telah penulis sebutkan tadi, maka tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang nurani yang seyogyanya selalu ada dalam setiap hati manusia.

Meneliti lain hal dari puisi tersebut yang memperkuat pendapat penulis adalah kutipan berikut:

Penyair tidak mencipta

Sajak dari ketiadaan, dari

Mimpi-mimpi kosong

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Dari kutipan di atas maka yang diceritakan penyair adalah tentang penyair, peyair adalah seseorang yang menciptakan sebuah karya bukan dari sebuah kekosongan, maksudnya bahwa puisi merupakan sebuah karya sastra yang berasal dari kehidupan manusia.

Selain itu di sana juag adi ceritakan penyair merupakan seorang pendaki puncak batin, artinya penyair adalah seseorang yang mempunyai kepakaan batin terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya (kehidupan).

Maka tema yang ada dalam puisi tersebut adalah tema kemanusiaan (sosial).

B. Perasaan

Penulis mengira bahwa perasaan yang ada pada diri pengarang pada saat membuat karya tersebut adalah memikirkan apa dan siapakah penyair. Perasaan ini lahir dari pemikiran penyair terhadap apa yang dia rasakan ketika membuat sebuah sajak, bahwa sajak adalah sebuah karya isi atau tidak kosong dari kehidupan yang terjadi di lingkungannya.

Selain itu, penulis berpendapat bahwa ketika itu penyair merasakan sebuah perasaan yang mendalam tentang proses pembuatan sebuah karya. Pembuatan sebuah puisi bukanlah hal yang mudah, sebab seorang penyair harus memahami sesuatu bukan hanya dari lahirnya saja melainkan dari batinnya juga.

Ia pendaki puncak batin;

Desah nafasnya adalah

Nyanyian kehidupan

Dengan demikian perasaan yang sebenarnnya dirasakan penyair adalah bahwa untuk menjadi seorang penyair bukanlah hal yang mudah.

C. Nada dan Suasana

Nada adalah proses atau cara penyair menyampaikan sesuatu pada pembaca puisinya. Ada yang bersikap seperti seorang guru dan lain-lain. Hal ini diungkapkan pula oleh seorang ahli sastra sebagai berikut:

Herman J. Waluyo (1987:125) “Penyair mempunyai sikap tertentu terhadapa pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu pada pembaca”.

Menurut pendapat penulis, penyair dalam puisi di atas termasuk pada sikap yang terakhir, yaitu bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu pada pembaca, hanya saja kali ini penyair ingin meyakinkan bahwa seorang penyair bukanlah seseorang yang bodoh, bahkan menurutnya penyair adalah seseorang yang mempunyai kelebihan dibandingkan orang-orang pada umumnya.

Perasaan yang saya rasakan ketika membaca puisi ini dan memaknainya lebih jauh, saya menjadi lebih tahu tentang siapa penyair sebenarnya, dari manakah sumber ide pembuatan sebuah puisi yang dapat dijawab pada larik terakhir bait kedua “Desah nafasnya adalah nyanyian kehidupan” penulis memberikan arti bahwa puisi bersumber dari kehidupan manusia.

D. Pesan atau Amanat

Amanat atau pesan berbeda dengan tema, tema menurut pendapat penulis bersifat objektif atau tergantung pada pembaca, tetapi amanat itu bisaanya hal yang ingin disampaikan penyair berdasarkan persepsinya sendiri.

Pesan yang terdapat dalam puisi tersebut adalah tentang rintangan yang harus dihadapi seorang penyair untuk dapat membuat sebuah karya.

Tetapi seandainya karya tersebut sudah lahir, tidak sedikit karya yang abadi walaupun penyairnya telah wafat.

Yang menjelma puisi

Lebih kekal dari batang

Usianya yang rapuh

Dipangkas waktu

Doni Muhamad Nur

Api dan Air

Api dan air tak pernah menyatu

Tapi saling membantu

Api dan air mengapit cinta;

Membenihkan kasih sayang

Membenihkan pula luka

Dan duka di bumiNya.

1997

A. Tema

Tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah sosial. Tetapi penulis mengalami kesulitan ketika akan menerjemahkan temanya, sebab puisi tersebut sangat kaya dengan majas.

Majas yang terdapat dalam puisi tersebut adalah majas metafora atau perbandingan langsung. Majas ini pula adalah sebuah terobosan baru, sebab biasanya kita mendengar bahwa air tidak akan pernah bersatu, tetapi oleh penyair justru air dan api dapat saling membantu “Api dan air tak pernah menyatu tapi saling membantu” kutipan di atas penulis artikan sebagai perbedaan yang biasanya terdapat dalam kehidupan manusia, perbedaan dimetaforkan dengan air dan api, yang dapat saling membantu, arti kata bahwa perbedaan dapat pula dipakai menjadi sebuah alat untuk saling membantu.

Dengan demikian tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah sosial kemanusiaan.

B. Perasaan

Menurut pendapat penulis perasaan pengarang yang tergambar dari puisi di atas adalah gambaran dari kekhawatiran penyair tentang penyalahgunaan perbedaan pada diri manusia, seperti yang terjadi di negara kita saat ini. Perbedaan justru dijadikan alat untuk saling menjatuhkan.

Perbedaan yang disimbolkan oleh air dan api dapat melahirkan cinta kasih dengan sesama. Bukankah Tuhan menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan?

Api dan air mengapit cinta;

Membenihkan kasih sayang

Tetapi penyair juga mewaspadai tentang akibat negative dari perbedaan itu. Perbedaa itu kadang-kadang bahkan sering menjadi sebuah benih yang dapat menghancurkan semua hal.

C. Nada dan Suasana

Nada yang menjadi cara dalam menyampaikan inti cerita, penyair seperti menjadi guru bagi pembaca, hal ini terbukti dari cara penyair dalam memberikan pengertian tentang kebisaaan api dan air yang menjadi simbol perbedaan tersebut, tetapi mungkin saja hal ini sebagai akibat dari emosi penyair yang menyaksikan perbedaan yang dijadikan alat untuk saling menjatuhkan.

Suasana yang ditimbulkan oleh puisi tersebut adalah bertambahnya rasa kasih sayang terhadap sesama, walaupun berbeda suku, warna kulit, dan sebagainya.

Suasana ini menjadi sebuah pedoman bagi pembaca untuk hidup di lingkungan dengan membina tali persaudaraan dan saling mengasihi, agar tercipta suasana lingkungan yang sejahtera.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya adalah bahwa perbedaan janganlah menimbulkan pertentangan dan perbedaan janganlah dijadikan alat untuk saling merusak, sebab bukan hanya umat manusia yang akan rusak oleh perbedaan yang tidak dipahami tetapi juga alam yang sepatutnya kita jaga akan mengalami kerusakan.

Pesan tersebut merupakan sebuah hal yang sangat kontekstual. Mengapa demikian? Sebab hal ini terjadi saat ini di negara kita.

Moh. Wan Orlet

INDONESIA KAYA

Untuk:WR. Supratman

Indonesia telah merdeka

Putuskan rantai penjajah

Dan kini berkibar merah putih

Indonesia merdeka

Kita telah manusia

Aku telah manusia

Indonesia kaya merdeka

Kapan kita manusia

Kapan aku manusia

2000

A. Tema

Tema yang terdapat dalam puisi karya Moh. Wan Orlet ini adalah tema nasionalisme. Mengapa demikian, sebab puisi tersebut menceritakan tentang Bangsa Indonesia yang terlepas dari penjajahan.

Pendapat penulis ini disimpulkan setelah memperhatikan kutipan berikut:

Indonesia telah merdeka

Putuskan rantai penjajah

Dan kini berkibar merah putih

Dalam kutipan di atas dikatakan bahwa Indonesia telah terlepas dari belenggu penjajahan.

Yang unik dari puisi di atas adalah bahwa puisi tersebut didedikasikan untuk Seorang tokoh nasional yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tetapi meninjau judul puisi di atas “ Indonesia Kaya” membuat pertanyaan dalam benak saya, apakah puisi tersebut merupakan sebuah sindiran untuk Bangsa kita?

Pendapat penulis ini hadir terangsang oleh kehadiran bait terakhir puisi tersebut:

Indonesia kaya merdeka

Kapan kita manusia

Kapan aku manusia

Di sana disebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan telah merdeka, tetapi hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan “kapan kita manusia, kapan aku manusia”. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat kita belum menjadi manusia seutuhnya dalam arti kita masih harus mengalami proses perbaikan.

Dengan demikian maka pendapat penulis, bahwa tema yang terkandung dalam puisi tersebut adalah nasionalisme benar adanya.

B. Perasaan

Perasaan pengarang ketika membuat karya tersebut menurut pendapat penulis adalah perasaan ketidakpuasan penyair atas lagu yang diciptakan WR. Supratman yang mengumumkan bahwa Indonesia telah merdeka, sebab mungkin penyair berpendapat bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Hal tersebut sangat kentara dengan pertanyaan penyair yang penulis artikan bahwa pertanyaan tersebut ditujukan pada WR. Supratman “kapan kita manusia, kapan aku manusia”.

Selain perasaa ketidakpuasan penyair, perasaan yang terdapat dalam puisi di atas adalah perasaan yang ingin menyindir keadaan Bangsa Indonesia yang katanya kaya tetapi masih banyak masyarakatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Atau sering kita saksikan kekayaan tanah Indonesia di eksploitasi oleh bangsa lain.

C. Nada dan Suasana

Nada yang tampak dari puisi di atas adalah kegamblangan penyair dalam mengungkapkan realita kehidupan Bangsa Indonesia yang belum sepenuhnya merdeka, Bangsa Indonesia yang kaya tetapi masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan, dan ada seseorang yang begitu tertipu oleh kata-kata bahwa Indonesia telah merdeka (WR. Supratman) sehingga menciptakan sebuah lagu “Indonesia Raya”.

Menurut pendapat penulis, pengarang ini tergolong pengarang yang begitu berani mengungkapkan sebuah kebenaran, tidak peduli apakah ada yang tersinggung atau tidak. Pendapat penulis ini dibuktikan dengan pemakaian kata-kata yang begitu diafan (seandainya dikaji secara struktural atau struktur lahir puisi) sehingga cukup mudah diartikan. Selain itu Puisi tersebut ditujukan pada tokoh tertentu yang disebutkan namanya.

Sedangkan suasana yang diciptakan puisi tersebut dalam benak pembaca adalah sebuah perasaan malu, sebab sangat sedikit orang yang menyadari bahwa bangsa kita sebenarnya belum merdeka sepenuhnya, atau masyarakatnya belum menjadi manusia seutuhnya. Dengan membaca puisi tersebut pembaca akan lebih meningkatkan sumbangsihnya bagi negara yang dimulai dengan memperbaiki diri pribadi.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut adalah bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia jangan sampai terbuai oleh gemor-gemor bahwa bangsa kita telah merdeka, justru ada yang lebih berbahaya dari penjajahan secara fisik yaitu penjajahan di bidang pendidikan, bidang ekonomi, dan sebagainya.

Pesan lainnya adalah bahwa kita sebagai manusia harus berusaha meningkatkan kualitas pribadi agar benar-benar menjadi manusia seutuhnya.

Ratna Ayu Budhiarti

TAHAJUD

Tuhanku

Aku tak kuasa tengadah lagi

Di depanmu aku begitu kerdil, tak

Setitik kecilpun

Tuhanku

Keangkuhanku sirna sudah mengingat

Diriku yang bersimbah debu kenistaan

Di hamparan sajadah merah

Aku terduduk, tafakur

Merenungi diri dan kisah perjalananku

Hari ini

Mohon lapangkan hidupku

Esok hari

1996

A. Tema

Tema yang ada dalam puisi yang berjudul “Tahajud” adalah tema religius. Seandainya puisi tersebut dikaji diksinya, puisi tersebut didominasi oleh kata-kata yang mencerminkan kereligiusan puisi, yaitu:

Tuhanku

Sajadah

Tafakur

Selain itu, tema tersebut dapat disimpulkan melalui judul yang dipakai oleh pengarang yaitu “tahajud”. Tahajud adalah salah satu sholat sunat yang dilaksanakan malam hari setelah pelaku tidur sejenak.

Puisi tersebut menceritakan pengakuan penyair tentang ke-Maha-Kuasaan Tuhan, penyair menyadari bahwa dia begitu kecil jika dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan.

Hal ini merupakan hasil perenungan penyair ketika dia melaksanakan sholat tahajud. Selain itu penyair menyadari bahwa dirinya adalah insan yang penuh dengan dosa.

Tuhanku

Aku tak kuasa tengadah lagi

Di depanmu aku begitu kerdil, tak

Setitik kecilpun

Tuhanku

Keangkuhanku sirna sudah mengingat

Diriku yang bersimbah debu kenistaan

Dengan pemaparan yang telah penulis ungkapkan di atas maka jelas bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema religius.

B. Perasaan (Feeling)

Perasaan penyair dalam puisi tersebut adalah perasaan rendah diri penyair. Perasaan tersebut hadir ketika dia merasa bahwa dirinya adalah insan yang dipenuhi dosa tetapi Tuhan selalu saja memberikan rejeki padanya.

Penyair menyadari bahwa dirinya tak pantas untuk berlaku angkuh di hadapan Tuhan. Selain itu karena penyair merasa begitu kecil di hadapan-Nya maka penyair memohon doa agar hidupnya dilapangkan.

Di hamparan sajadah merah

Aku terduduk, tafakur

Merenungi diri dan kisah perjalananku

Hari ini

Mohon lapangkan hidupku

Esok hari

C. Nada dan Suasana

Pegarang menyampaikan idenya pada pembaca dengan menggunakan dirinya sebagai tokoh dalam puisi, sehingga tercermin bahwa penyair adalah seorang yang berbudi luhur, rendah diri, dan peka.

Penyair tidak berusaha mengingatkan pembaca dengan sikap yang menggurui, melainkan denga sebuah teknik yang sempurna, sehingga tidak ada pihak yang merasa tersinggung dengan hadirnya puisi tersebut.

Sedangkan  suasana yang ada setelah membaca puisi tersebut adalah mengikuti arus kesadaran pengarang bahwa kita hanyalah mahluk Tuhan yang begitu kerdil, penuh dosa, dan tidak pantas untuk berlaku angkuh di dunia milik-Nya.

D. Pesan (Amanat)

Pesan yang ingin disampaikan penagrang dalam puisinya adalah:

  1. Kita adalah mahluk Tuhan yang begitu kerdil jika dibandingkan dengan kekuasaan-Nya.
  2. Manusia adalah mahluk yang penuh dengan dosa, sedangkan Tuhan selalu memberikan rejeki pada manusia.
  3. Manusia tidak pantas berlaku angkuh dan sombong di dunia.
  4. Tidak ada tempat berlindung dan memohon pertolongan kecuali Pada Tuhan.

D. Zawawi Imron

KURSI

Sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

-          kek, jika tembangmu menyiratkan jalanku

dimana kau simpan cerminmu?

bawah matahari yang belum kuseru

laut begitu dalam

menunggu dan menunggu

dan lelaki tua yang di pantai termangu

mungkin bayang-bayang diriku

sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

dan aku berjalan

mencari sudut lingkaran itu

1975

A. Tema

Tema yang ada dalam puisi tersebut adalah kemanusiaan, sebab menceritakan tentang sebuah kehidupan. Tema tersebut dihadirkan dengan menggunakan metafor.

Sebuah kursi peninggalan kakekku

ada lingkaran terukir di situ

- kek, jika tembangmu menyiratkan jalanku

dimana kau simpan cerminmu?

Kursi pada puisi di atas adalah sebuah simbol dari kehidupan. Pada kursi tersebut terukir sebuah lingkaran yang penulis artikan sebagai pengalaman kehidupan. Mengapa penulis mengartikan demikian?, sebab diperkuat oleh perkataan tokoh aku yang menanyakan bagaimana pengalaman tersebut dan harus seperti apa aku menjalani kehidupan.

Bait selanjutnya yang berbunyi:

bawah matahari yang belum kuseru

laut begitu dalam

menunggu dan menunggu

dan lelaki tua yang di pantai termangu

mungkin bayang-bayang diriku

Bait tersebut merupakan pendapat tokoh aku tentang masa depannya, dengan berbagi kemungkinan. Apakah hanya akan menjadi lelaki tua yang termangu di tepi pantai? (seseorang yang tidak berguna sampai hari tua).

Pemaparan penulis di atas menjelaskan bahwa tema yang terdapat dalam puisi di atas adalah tema kemanusiaan.

B. Perasaan

Perasaan dalam puisi di atas adalah bahwa penyair mengetahui dalam hidup ini diperlukan pengalaman agar tidak salah dalam mengambil jalan.

Penyair merasa perlu pengalaman dalam menjalani kehidupan, bahkan kehidupan harus selalu bercermin dari pengalaman orang lain yang berguna bagi diri pribadi.

C. Nada dan Suasana

Nada penyair dalam menyampaikan inti cerita adalah dengan lugas menjelaskan betapa dalam menjalani hidup ini diperlukan sebuah pengalaman, sebab sesuai pepatah bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Suasana yang ada dalam benak saya sebagai pembaca adalah perasaan berupa ungkapan persetujuan tentang apa yang diungkapkan penyair, bahwa kehidupan memerlukan pengalaman.

D. Pesan

Pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam puisi di atas adalah kita harus selalu teliti dalam menjalani kehidupan, ketelitian tersebut memberikan pemahaman bahwa hidup harus senantiasa berhati-hati. Salah satu cara untuk hidup berhati-hati adalah dengan selalu bercermin dari pengalaman, baik itu pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.

———————————————————————————————————————————————————————

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Setelah menelaah beberapa puisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa puisi begitu sarat dengan makna yang sangat berguna bagi kita dalam menempuh kehidupan.

Mengkaji tema, perasaan, nada, suasana, dan amanat sebuah puisi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi penulis, selain kaitannya dengan panulis yang bergelut dalam dunia pendidikan juga makana yang terkandung dalam sebuah puisi tidak terlepas dari nuansa religius yang dapat memperkokoh keimanan.

B. SARAN

Penulis hanya bisa menyarankan agar mempelajari dan memaknai sebuah puisi bukan Karen atuntutan tugas atau lain hal, melainkan karena panggilan jiwa yang merasa butuh akan amanat yang terkandung dalam sebuah puisi.

DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal (1995). MEMAHAMI PUISI. Bandung: Angkasa.

J. Waluyo, Herman (1987). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Komentar
  1. sam mengatakan:

    Artikelx bgus skli. bsa gak mnta bantuanx tuk analisis puisi, kbtlan ad tgas kuliah & bngung bnget tuk analisisx. mhon konfirmasix mllui email sy. trmaksh sblmx…..

  2. sabriani ani mengatakan:

    terimakasi ya puisinya……….

  3. zygor wow mengatakan:

    Some really wonderful posts on this site, regards for contribution.

  4. tycoon manaview mengatakan:

    Hello, you used to write magnificent, but the last several posts have been kinda boring… I miss your super writings. Past few posts are just a bit out of track! come on!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s