Morfologi I

Bagian dari tata bahasa yang membicarakan bentuk kata disebut morfologi. Pengertian tentang bentuk belum jelas bila kita belum mengetahui lebih lanjut tentang wujudnya dan apa yang menjadi ciri-cirinya.

Semua arus-ujaran yang sampai ke telinga kita terdengar sebagai suatu rangkaian kesatuan. Bila kita berusaha memotong-motong suatu arus-ujaran yang sederhana seperti:

/ p e k e r j a a n m e r e k a m e m u a s k a n /

maka potongan-potongan (segmen) yang akan kita dapat yaitu potongan-potongan yang merupakan kesatuan yang langsung membina kalimat itu adalah: pekerjaan, mereka dan memuaskan . Unsur mereka di satu pihak tidak dapat dipecahkan lagi, sedangkan unsur pekerjaan dan memuaskan masih dapat dipecahkan lagi menjadi: kerja dan pe-an , serta puas dan me-kan.

Unsur-unsur kerja dan puas dapat pula dengan langsung membentuk kalimat seperti tampak dalam contoh berikut:

•  Kerja itu belum selesai

•  Saya belum puas

Sebaliknya unsur-unsur pe-an dan me-kan tidak bisa langsung membentuk sebuah kalimat. Unsur-unsur ini juga tidak bisa berdiri sendiri, selalu harus diikatkan kepada unsur-unsur lain seperti puas, kerja, dan lain-lain. Untuk ikut serta dalam membentuk sebuah kalimat, unsur-unsur pe-an dan me-kan pertama-tama harus digabungkan dengan unsur puas dan kerja.

A. Morfem

Kedua macam unsur itu, baik kerja dan puas , maupun pe-an dan me-kan mempunyai suatu fungsi yang sama yaitu membentuk kata. Unsur pembentuk itu, baik yang bebas ( kerja dan puas ) maupun yang terikat ( pe-an dan me-kan ) dalam tata bahasa disebut morfem (dari kata morphe = bentuk, akhiran ­ema­ = yang mengandung arti). Jadi dalam bahasa Indonesia kita dapati dua macam morfem yaitu:

a. Morfem dasar atau morfem bebas , seperti: kerja, puas, bapak, kayu, rumah, tidur, bangun, sakit, pendek, dan lain-lain.

b. Morfem terikat , seperti: pe-, -an, pe-an, ter-, ber-, me-, dan lain-lain.

Dalam tata bahasa Indonesia morfem dasar atau morfem bebas itu disebut kata dasar , sedangkan morfem terikat disebut imbuhan.

Batasan: Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya.

B. Alomorf

Dalam merealisasikan morfem-morfem tersebut, pada suatu ketika kita sampai kepada suatu kenyataan bahwa morfem-morfem itu dapat juga mengalami variasi atau perubahan bentuk. Misalnya morfem ber- dalam bahasa Indonesia dalam realisasinya dapat mengambil bermacam-macam bentuk:

                   ber-             be-              bel- 
                   berlayar       bekerja        belajar
                   bersatu        berambut
                   bergirang     beruang
                   berdiri          berakit dan lain-lain.

Perubahan bentuk ber- menjadi be- atau bel- disebabkan oleh lingkungan yang dimasukinya. Bila ber- memasuki suatu lingkungan kata yang mengandung fonem /r/ dalam suku kata pertama, maka fonem /r/ dalam morfem ber- itu ditanggalkan. Dalam suatu kesempatan unsur /r/ itu berubah menjadi /l/. Bentuk-bentuk variasi dari pada morfem itu disebut alomorf .

Batasan: Alomorf adalah variasi bentuk dari suatu morfem disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya.

Dalam Morfologi atau Ilmu Bentuk Kata dibicarakan bagaimana hubungan antara morfem dengan morfem, antara morfem dengan alomorf, serta bagaimana pula menggabungkan morfem-morfem itu untuk membentuk suatu kata.

C. Morfem Terikat

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, morfem dapat dibagi atas dua macam yaitu morfem terikat dan morfem bebas. Morfem terikat dalam tata bahasa Indonesia dapat dibagi lagi atas empat macam berdasarkan tempat terikatnya pada sebuah morfem dasar:

  1. Prefiks (= awalan) : per-, me-, ter-, di-, dan lain-lain.
  2. Infiks (= sisipan) : -el, -er, -em,
  3. Sufiks (= akhiran) : -an, -kan, -i.
  4. Konfiks : gabungan dari dua atau lebih dari ketiga macam morfem di atas yang bersama-sama membentuk suatu kesatuan arti.

Morfem terikat dapat dibeda-bedakan lagi menurut fungsinya, ada yang berfungsi untuk membentuk kata kerja, ada yang bertugas untuk membentuk kata benda, ada pula yang digunakan untuk membentuk kata sifat. Pembagian yang kompleks adalah pembagian yang didasarkan atas arti yang didukungnya. Tetapi arti yang didukungnya itu pun belum mutlak, masih merupakan suatu kemungkinan; arti yang tepat harus selalu ditinjau dari suatu konteks.

D. Morfem Bebas dan Kata

Suatu morfem bebas telah dapat disebut sebagai kata. Sebaliknya konsep tentang kata tidak hanya meliputi morfem bebas, tetapi juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, atau morfem dasar dengan morfem dasar. Berarti konsep kata, atau tegasnya kata berdasarkan bentuknya dapat kita bagi atas:

  1. Kata dasar
  2. Kata berimbuhan, yang dapat dibagi lagi atas:
    1. Kata yang berawalan (ber-prefiks).
    2. Kata yang bersisipan (ber-infiks).
    3. Kata yang berakhiran (ber-sufiks).
    4. Kata yang berkonfiks.
  3. Kata ulang
  4. Kata majemuk

Baik kata dasar maupun kata-kata jadian (kata berimbuhan, berulang, dan majemuk), walaupun di satu pihak terdapat perbedaan dalam morfologinya tetapi di pihak lain ada kesamaan dalam fungsi dan dalam bidang arti. Fungsi dari segala macam bentuk kata ini adalah secara langsung dapat membina sebuah kalimat. Sedangkan dalam bidang arti tiap-tiapnya mengandung suatu ide tertentu. Ide yang terkandung dalam kata kerja lain dari pada ide yang ditimbulkan oleh kata pekerjaan , dan keduanya lain dari pada ide yang terkandung dalam kata bekerja, mengerjakan, dan dikerjakan. Masing-masing mewakili ide yang berlainan.

Batasan: Kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya, dan mengandung suatu ide disebut kata.

****

2. Analisa Kata

Karena kata itu dapat mengambil bermacam-macam bentuk oleh penggabungan antar morfem, maka secara teoritis kata dapat pula diuraikan menurut urutan peristiwa terjadinya. Unsur-unsur yang tergabung menjadi satu kata, tidak dapat bergabung begitu saja tetapi selalu mengikuti suatu tata-tingkat yang tertentu dan teratur.

Marilah kita mulai mengambil suatu contoh yang sederhana: petani. Kita semua akan sepakat bahwa kata itu dibentuk dari dua unsur yaitu pe dan tani. Tidak ada yang akan menyangkal kenyataan ini.

Marilah kita mengambil contoh yang lain: perbuatan. Dengan contoh ini akan timbul beberapa pendapat. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa perbuatan terjadi dari 3 unsur yaitu per-, buat dan –an.

Kata perbuatan mengandung suatu ide yang lain sekali dari kata perbuat atau buatan. Berarti masing-masing unsur per- dan –an dalam kedua kata tersebut juga mempunyai suatu tugas yang khusus dalam membentuk arti. Sedangkan arti unsur-unsur per- dan –an dalam perbuatan bukanlah gabungan dari kedua unsur itu, tetapi keduanya bersama-sama membentuk suatu arti yang lain. Jadi, kedua bentuk itu, yang mempunyai kesatuan arti, pada suatu saat bergabung dengan kata buat. Sebab itu dapatlah ditegaskan di sini bahwa kata perbuatan terbentuk dari dua unsur yaitu buat dan konfiks pe-an.

Analisa semacam ini, yang dilakukan atas kata disebut analisa unsur bawahan terdekat. Dengan analisa ini kita mencari unsur-unsur yang langsung membentuk kata-kata seperti petani, perbuatan, dan lain-lain. Menurut tata-tingkat pembentukan, setiap unsur yang baru harus selalu terdiri dari dua unsur yang lebih kecil. Tiap-tiap unsur yang langsung membentuk kata itu disebut unsur bawahan terdekat.

Contoh: petani: unsur bawahan terdekatnya adalah pe- dan tani.

            perbuatan: unsur bawahan terdekatnya adalah buat dan per-an.

A. Analisa Unsur

Dengan dasar-dasar pengertian tersebut kita menerapkan lagi analisa di atas, dengan unsur-unsur yang lebih sulit, misalnya: menerangkan.

Kata dasar menerangkan adalah terang. Kini kita meneliti unsur manakah yang mula-mula bergabung dengan terang. Apakah unsur-unsur me-kan bergabung begitu saja dengan terang? Jika demikian dari manakah datangnya unsur n itu? Akan kita lihat nanti bahwa pembentukan kata menerangkan terjadi tahap demi tahap.

Tahap I: Kata terang mula-mula bergabung dengan unsur –kan, sehingga terbentuklah kata terangkan.

Tahap II: Apakah terangkan lalu bergabung dengan me- atau harus ada tahap-antara dahulu? Andaikata terangkan digabung dengan me- maka kita akan mendapat *meterangkan. Sedangkan kata yang hendak kita analis adalah menerangkan. Tahap II yang harus kita lalui adalah fonem t mendapat proses nasalisasi (penyengauan) menjadi n.

Jadi Tahap II adalah: N (nasalisasi) + terangkan, hasilnya adalah *nerangkan.

Tahap III: Baru pada akhirnya kita menggabungkan me- dengan *nerangkan sehingga terbentuklah kata menerangkan.

Jadi:

  1. Unsur bawahan terdekat dari menerangkan adalah me- dan *nerangkan.
  2. Unsur bawahan terdekat dari nerangkan adalah N (nasalisasi) dan terangkan.
  3. Unsur bawahan terdekat dari terangkan adalah terang dsn –kan.

Inilah teknik dimana kita dapat menunjukkan secara teoritis terbentuknya sebuah kata dan tata-tingkat unsur-unsur pembentukan suatu kata. Teknik ini akan kembali dibicarakan bila kita membahas Sintaksis Bahasa Indonesia.

Tahap II seperti yang telah dituliskan di atas, dimana suatu fonem mendapat nasal, bukanlah suatu hal yang baru dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam dialek Jakarta misalanya, proses nasalisasi ini masih sangat produktif untuk pembentukan kata kerja, seperti kopi-ngopi, kapur-ngapur, surat-nyurat dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa pada jaman lampau nasalisasi ini juga produktif untuk pembentukan kata kerja. Namun lambat laun mulai berkurang, dan diambil alih oleh prefiks me-. Tetapi dalam pembentukan kata kerja, prefiks me- masih membutuhkan nasalisasi, yang terjadi secara otomatis. Walaupun nasalisasi ini pada kenyataannya sekarang selalu serempak terjadi dengan me- , dalam analisa kita harus memberi tempat yang layak padanya agar kita bisa mengenal struktur tata-tingkat unsur-unsur itu sebaik-baiknya.

* bentuk-bentuk yang bertanda bintang adalah bentuk hipotetis.

B. Nasalisasi

Nasalisasi adalah proses merubah atau memberi nasal pada fonem-fonem. Di atas telah diterangkan bagaimana terjadinya nasal atas kata terang. Dalam menasalkan suatu fonem, orang tidak berbuat sesuka hati tetapi harus mengikuti kaidah-kaidah tertentu.setiap fonem yang dinasalkan haruslah mengambil nasal yang homorgan. Artinya nasal yang mempunyai artikulator dan titik artikulasi yang sama seperti fonem yang dinasalkan itu.

Jadi: p dan b harus mengambil nasal m (karena sama-sama bilabial).

        t dan d harus mengambil nasal n (karena sama-sama dental).
        k dan g harus mengambil nasal ng (karena sama-sama velar) dan sebagainya.

Dalam proses nasalisasi tersebut tampak pula bahwa: b, d, g, j, tidak pernah hilang bila mengalami nasalisasi, sedangkan p, t, k, s hilang atau luluh. Hal ini terjadi karena b, d, g itu adalah konsonan bersuara, sama seperti konsonan nasal itu. Jadi tidak perlu diadakan penyesuaian lagi karena sifat fonem itu sama (bersuara). Sebaliknya, p, t, k, s adalah konsonan yang tak bersuara yang harus disesuaikan dengan fonem nasal yang bersuara. Dalam penyesuaian ini konsonan-konsonan yang tak bersuara itu mengalami peluluhan. Kecuali itu fonem-fonem /r/, /y/, /l/, /w/ tampaknya tidak mendapat nasal, misalnya: merajai, meyakinkan, mewarnai, melakukan dan sebagainya. Namun prinsip yang kita ambil adalah pembentukan dengan prefiks me- harus melalui proses nasalisasi, maka kata-kata yang fonem awalnya adalah r, y, l, w, juga harus mengalami proses nasalisasi. Nasalisasi semacam ini dikenal dengan istilah zero (tidak ada).

Ada persoalan lain yang timbul dalam nasalisasi. Mengapa kadang-kadang kita mendapat bentuk-bentuk kembar seperti: menertawakan dan mentertawakan?

Untuk menjawab persoalan di atas, baiknya kita melihat bentuk-bentuk seperti: mempertahankan, memperbaiki, mempersatukan dan sebagainya. Fonem /p/ di sini tidak diluluhkan, walaupun /p/ adalah konsonan tak bersuara. Sebaliknya bentuk-bentuk seperti mengeluarkan, mengemukakan, mengetengahkan mengalami peluluhan pada fonem awalnya: /k/. Selanjutnya kata-kata asing seperti sabot, koordinir, dan lain-lain tetap mempertahankan konsonan awalnya walaupun konsonan itu tak bersuara.

Jawaban dari semua persoalan di atas ialah pada prinsipnya peluluhan berlaku pada kata-kata dasar, bukan pada afiks (imbuhan). Kata tertawa oleh sebagian orang dianggap atau dirasakan terdiri dari prefiks ter- dan kata dasar tawa. Oleh karena itu dibentuklah kata jadian mentertawakan. Sebagian lagi menganggap tertawa adalah kata dasar karena itu fonem /t/ diluluhkan sehingga terdapat bentuk menertawakan. Kata keluar juga dianggap sebagai satu kata dasar, karena itu dibentuk kata turunan mengeluarkan. Sedangkan bentuk-bentuk seperti mengetengahkan, mengemukakan dibentuk secara analogi mengikuti bentuk mengeluarkan.

Sebaliknya, kata-kata asing yang terasa tidak familiar tetap mempertahankan konsonan-konsonan tak bersuara untuk menjaga jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman.

Ringkasnya, nasalisasi harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

  1. Nasalisasi berlangsung atas dasar homogen.
  2. Dalam nasalisasi konsonan bersuara tidak luluh, konsonan tak bersuara diluluhkan.
  3. Nasalisasi hanya berlangsung pada kata-kata dasar, atau yang dianggap kata dasar.
  4. Fonem-fonem y, r, l, dan w dianggap mengalami proses nasalisasi juga tetapi nasalisasi yang zero.

Catatan: Kata-kata yang mulai dengan vokal dan fonem /h/ mengambil nasal ng. Hal ini tidak menyalahi prinsip homorgan, karena alat-alat ucap yang menghasilkan buyi-bunyi ujaran itu berada dalam rongga laring dan faring. Untuk itu ia harus mencari nasal yang terdekat, yaitu ng.

***********************

3. Kata Dasar

Umumnya kata dasar dalam bahasa Indonesia, dan juga semua bahasa yang serumpun dengan bahasa Indonesia, terjadi dari dua suku kata; misalnya: rumah, lari, nasi, padi, pikul, jalan, tidur dan sebagainya. Seorang ahli bahasa Jerman, Otto von Dempwolff, dalam penelitiannya tentang bahasa Indonesia telah menetapkan dua macam pola susunan kata dasar dalam bahasa Indonesia. Pola itu disebutnya Pola Kanonik atau Pola Wajib , yaitu:

  1. Pola Kanonik I: K-V-K-V, maksudnya tata susun bunyi yang membentuk suatu kata dasar terdiri dari: Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal, misalnya: padi, lari, paku, tiga, dada, dan sebagainya.
  2. Pola Kanonik II: K-V-K-V-K, maksudnya di samping Pola Kanonik I kata-kata dasar Indonesia dapat juga tersusun dari Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal-Konsonan, misalnya: rumah, tanah, batang, sayap, larang, dan lain-lain.

Kita tidak menyangkal akan apa yang telah dikemukakan oleh von Dempwolff. Tetapi, andaikata kita menerima secara mutlak Pola Kanoniknya itu sebagai dasar yang absolut, maka bagaimana kita harus menerapkan kata-kata seperti tendang, banting, panggil, aku, api, anak, dan lain-lain? Berarti kita sekurang-kurangnya menambahkan beberapa macam rumus lagi agar bisa menampung semua kata dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia, misalnya: K-V-K-K-V-K, V-K-V-K, V-K-V. Dan semua rumus ini sekurang-kurangnya baru mengenai kata-kata dasar. Jika kita membahas kata-kata pada umumnya, tentu akan lebih banyak lagi.

Oleh karena itu kita mengambil suatu dasar lain yang lebih sempit yaitu berdasarkan suku kata ( silaba ). Bila kita berusaha untuk memecah-mecahkan kata dasar bahasa Indonesia menjadi sukukata-sukukata, maka kta akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa ada tiga macam struktur sukukata dalam bahasa Indonesia yaitu: V, V-K, K-V , dan K-V-K . Dengan demikian kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia dibentuk dari kemungkinan-kemungkinan gabungan dari ketiga jenis silaba itu, misalnya:

             ru - mah  (K-V + K-V-K)
             ka - ta     (K-V + K-V)
             a  - pa     (V + K-V)
             lem - but  (K-V-K + K-V-K)
             na - ik      (K-V + V-K)
              a - ir       (V + V-K) dan lain-lain.

A. Akar Kata

Jika kita memperhatikan lagi dengan cermat akan bentuk-bentuk kata dasar, tampaklah bahwa ada banyak kata yang memiliki bagian yang sama. Seorang ahli bahasa dari Austria bernama Renward Brandsetter telah mencurahkan minatnya sepenuhnya dalam hal ini. Ia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia dalam sejarah pertumbuhannya, pernah terbentuk dari suatu unsur yang lebih kecil yang disebut akar kata . Kata-kata seperti bukit, rakit, bangkit, ungkit, dan lain-lain dapat dipulangkan kepada suatu unsur dasar yaitu vkit.

Dengan demikian dalam bahasa Indonesia kita mendapat bermacam-macam akar kata seperti:

vtun : tuntun, santun, pantun.

vtas : batas, atas, pentas, petas, retas , dan lain-lain. .

vlut : kalut, balut, salu, belut, dan lain-lain.

vlit : lilit, kulit, sulit, belit,  dan lain-lain.

B. Arti Akar Kata

Pada umunya kita masih bisa mencari dan menemukan arti dari akar kata-kata dalam bahasa Indonesia. Tetapi sering juga kita terbentur dengan adanya kata-kata yang menganndung akar kata yang sama tetapi tidak terdapat kemiripan arti, misalnya:

       v lut  mengandung arti : menggulung, melibat;
                                 Karo : ulut = menggulung
                              Melayu : bulut = bungkus dengan cepat

Tetapi apa arti akar kata Ilut yang terdapat dalam kata-kata seperti:

       kalut = pikiran yang kacau
       belut = sejenis binatang air?

Persoalan di atas tidak perlu memusingkan kita, bila kita ingat bahwa dalam bahasa Indonesia sekarang pun terdapat homonim-homonim, di mana bentuk kata-kata itu sama tetapi tidak ada kemiripan arti, misalnya:

       Bisa = dapat, sanggup.
       Bisa = racun.

Jadi dalam masa purba pun tentu terdapat homonim-homonim pada akar kata. Hanya kita menghadapi kesulitan sekarang, sebab tidak dapat mencari arti yang tepat lagi atau kadang gagal sama sekali. Seandainya akar-akar kata itu masih produktif dipakai dalam pembentukan baik pembentukan kat maupun pembentukan macam lainnya, maka akan lebih mudah untuk mencari artinya. Lain halnya dengan kata-kata yang homonim dalam bahasa Indonesia sekarang; kita dapat menemukan artinya dengan mudah karena kita bisa mendapat kata-kata itu dalam suatu konteks. Dengan demikian kita dapat menafsirkan artinya berdasarkan hubungannya dalam konteks tertentu.

C. Pembentukan Kata Dasar

Dari bermacam-macam akar kata itu dapat dibentuk kata-kata dasar seperti yang ada sekarang dalam bahasa Indonesia. Pembentukan kata dasar tersebut dilakukan dengan berbagai cara:

a. Reduplikasi akar kata: gak + gak > gagak

                                     lit + lit       > lilit
                                     tun + tun   > tuntun, dan lain-lain.

b. Mendapat formatif (pembentuk) awalan: a-, i-, u-, ka-, sa-, ta-

    ka + bur > kabur
    se + bar > sebar
     a + lir    > alir

c. Mendapat formatif sisipan er, el, um, dan in:

    king + er > kering
    kan + um > kuman

d. Mendapat formatif akhiran: -an, -en, -n, dan -i

e. Penggabungan antar akar kata:

    ruk + sak > rusak (ruk = merusak, sak = membinasakan)

f. Ada pula kata dasar yang hany terdiri dari satu akar kata. Dalam hal ini kita dapati kata-kata dasar yang menyatakan:

  1. 1. Interjeksi: ah, hai, dan lain-lain.
  2. 2. Onomatope: sar, sir, sur, sis, dan lain-lain.
  3. 3. Kata-kata yang menyatakan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Kata-kata semacam ini banyak terdapat dalam bahasa Sunda dan Jawa, misalnya: bes, cup, rep, jlog, dan lain-lain.
  4. 4. Bahasa bayi: mam, mak, pak, dan lain-lain.
  5. 5. Kata-kata yang dipakai untuk panggilan orang: cih, nung, kak, kang, bi, dan lain-lain.

D. Hukum van der Tuuk dan Kesepadanan Bunyi

Di antara ahli bahasa Eropa yang pernah mengadakan perbandingan bahasa-bahasa Nusantara adalah H. N. van der Tuuk. Dari hasil penelitian, baik yang diadakan oleh ahli-ahli lain maupun oleh van der Tuuk sendiri, akhirnya tercapai suatu pendapat bahwa harus dengan tegas dibedakan dua macam trill (bunyi getar), yaitu /r/ palatal dan /R/ uvular. Fonem /R/ uvular biasanya berganti-gantian dengan /g/ dan /h/, sedangkan /r/ prepalatal biasanya bertukar dengan /d/ dan /l/. Pertukaran antara fonem-fonem ini di antara berbagai bahasa Nusantara dikenal dengan nama Hukum van der Tuuk I dan Hukum van der Tuuk II.

Yang dimaksud dengan Hukum van der Tuuk I adalah saling bertukar antara fonem R-G-H, serta Hukum van der Tuuk II adalah pertukaran antara donem R-D-L.

Sesungguhnya ada hubungan-hubungan yang teratur abtara fonem-fonem berbagai bahasa Nusantara. Kita dapat memperbanyak hubungan-hubungan ini misalnya antara b dan w. Ini sama sekali tidak berarti bahwa fonem /b/ dalam bahasa X akan selalu berganti dengan fonem /w/ dalam bahasa Y. Pertukaran ini tidak mutlak.

Oleh karena itu harus diadakan koreksi terhadap istilah yang dipakai oleh ahli-ahli tersebut. Kita tidak bisa mempergunakan istilah IhukumI dalam hubungan ini, dan juga kita harus menghindari pemakaian istilah berganti atau bertukar . Bukti mana yang menjelaskan bahwa /b/ berubah menjadi /w/ atau /w/ berubah menjadi /b/? Secara deskriptif kita hanya bisa mencatat bahwa ada kesepadanan atau korespondensi antara bunyi-bunyi tersebut. Oleh karena itu untuk selanjutnya kita mempergunakan istilah lain yaitu kesepadanan bunyi atau korespondensi bunyi.

Jadi dalam berbagai bahasa Nusantara terdapat kesepadanan bunyi atau korespondensi-korespondensi bunyi tertentu, misalnya:

1. Ada kesepadanan bunyi antara /b/ dan /w/:

    tebu ( Melayu) — tewu (Ngaju Dayak)
    besi (Melayu) — wesi (Jawa)

2. Ada kesepadanan bunyi antara /r/ – /d/ – /l/:

    padi (Melayu) — pari (Lampung) — palay (Tagalog)

3. Ada kesepadanan bunyi antara /r/ – /g/ – /h/

    Pari (Melayu) — padi (Bali) — pagi (Tagalog)



















Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s